Cara Menghitung Laba Bersih dan Laba Kotor UMKM + Contoh

Omzet besar belum tentu untung besar. Pelajari beda laba kotor dan laba bersih, rumusnya, contoh hitungan toko, serta kesalahan yang membuat laba terlihat lebih besar dari aslinya.

Tim RekaPOS · · 6 menit baca
Pemilik UMKM mempelajari cara menghitung laba bersih dan laba kotor dengan kalkulator dan laporan penjualan

Banyak pemilik toko merasa ramai pembeli, tetapi uang di akhir bulan tidak bertambah. Jawabannya ada pada cara menghitung laba bersih: omzet dikurangi modal barang menghasilkan laba kotor, lalu laba kotor dikurangi semua biaya operasional menghasilkan laba bersih. Mari bahas langkah demi langkah dengan contoh angka toko.

Beda Omzet, Laba Kotor, dan Laba Bersih

Tiga istilah ini sering tertukar, padahal artinya sangat berbeda:

  • Omzet (penjualan) adalah seluruh uang dari penjualan barang dalam satu periode, sebelum dikurangi apa pun.
  • Laba kotor adalah omzet dikurangi modal barang yang terjual, atau disebut harga pokok penjualan (HPP). Angka ini menunjukkan seberapa sehat selisih harga jual dan harga beli Anda.
  • Laba bersih adalah laba kotor dikurangi semua biaya menjalankan usaha, seperti gaji, sewa, listrik, dan biaya lain. Inilah keuntungan yang benar-benar menjadi milik usaha.

Analogi sederhananya: omzet adalah uang yang lewat di laci kasir, laba kotor adalah bagian yang tersisa setelah mengganti modal barang, dan laba bersih adalah yang tersisa setelah semua tagihan dibayar.

Cara Menghitung Laba Kotor

Rumusnya:

Laba kotor = Penjualan bersih - Harga pokok penjualan (HPP)

Penjualan bersih adalah omzet dikurangi retur dan potongan harga. HPP adalah total modal dari barang yang terjual, bukan total belanja kulakan bulan itu. Perbedaan ini penting: jika bulan ini Anda kulakan banyak tetapi barangnya belum terjual, belanja tersebut belum menjadi HPP, melainkan masih stok.

Contoh ilustrasi sebuah toko kelontong dalam satu bulan:

  • Omzet: Rp 45.000.000
  • Retur dari pembeli: Rp 500.000
  • Penjualan bersih: Rp 44.500.000
  • HPP (modal barang yang terjual): Rp 35.600.000
  • Laba kotor: Rp 44.500.000 - Rp 35.600.000 = Rp 8.900.000

Dari sini Anda bisa menghitung margin laba kotor: Rp 8.900.000 dibagi Rp 44.500.000 = 20%. Artinya dari setiap Rp 100.000 penjualan, ada Rp 20.000 yang tersisa untuk menutup biaya operasional dan menjadi laba. Cara menghitung HPP secara rinci kami bahas di artikel terpisah tentang harga pokok penjualan.

Cara Menghitung Laba Bersih Langkah demi Langkah

Setelah laba kotor diketahui, ikuti langkah berikut:

  1. Kumpulkan semua biaya operasional bulan itu. Termasuk biaya rutin dan biaya kecil yang sering terlupa.
  2. Kurangkan dari laba kotor. Hasilnya adalah laba operasional.
  3. Tambahkan pendapatan lain dan kurangi beban lain. Misalnya cicilan bunga pinjaman modal usaha.
  4. Kurangi pajak sesuai ketentuan yang berlaku untuk usaha Anda. Hasil akhirnya adalah laba bersih.

Rumus ringkasnya:

Laba bersih = Laba kotor - Biaya operasional - Beban lain - Pajak

Melanjutkan contoh toko di atas:

KeteranganJumlah (Rp)
Laba kotor8.900.000
Gaji 1 karyawan(2.500.000)
Sewa tempat(1.000.000)
Listrik dan air(600.000)
Transport kulakan(300.000)
Internet, pulsa, dan aplikasi kasir(250.000)
Kantong plastik dan perlengkapan(200.000)
Penyusutan peralatan (rak, kulkas, timbangan)(150.000)
Laba operasional3.900.000
Bunga pinjaman modal(300.000)
Laba sebelum pajak3.600.000

Perhatikan: dari omzet Rp 45 juta, laba sebelum pajak hanya sekitar Rp 3,6 juta atau 8% dari penjualan bersih. Angka ini wajar untuk toko kelontong yang marginnya tipis. Inilah sebabnya omzet besar tidak otomatis berarti untung besar.

Tentang penyusutan: rak atau kulkas seharga Rp 3.600.000 yang dipakai sekitar dua tahun bisa dibebankan Rp 150.000 per bulan. Tujuannya agar saat peralatan harus diganti, laba Anda selama ini sudah memperhitungkannya.

Mengapa Laba Bersih Tidak Sama dengan Uang di Laci?

Setelah menghitung, jangan kaget jika uang tunai di tangan tidak persis Rp 3,6 juta. Laba adalah ukuran untung-rugi, sedangkan uang tunai dipengaruhi arus keluar-masuk kas. Beberapa penyebab umum perbedaannya:

  • Sebagian laba "tersimpan" dalam bentuk stok karena Anda menambah persediaan bulan itu.
  • Ada penjualan secara bon yang belum dibayar pelanggan.
  • Cicilan pokok pinjaman mengurangi kas, tetapi bukan biaya dalam hitungan laba.
  • Pembayaran nontunai, misalnya debit atau dompet digital, masuk ke rekening, bukan ke laci.

Karena itu, selain menghitung laba, biasakan juga mencatat arus kas masuk dan keluar.

Kesalahan yang Membuat Laba Terlihat Semu

Hitungan laba sering terlihat bagus di atas kertas, tetapi uangnya tidak ada. Biasanya karena salah satu kesalahan ini:

  • Tidak menggaji diri sendiri. Jika pemilik ikut menjaga toko setiap hari, masukkan gaji wajar untuk pemilik sebagai biaya. Tanpa itu, laba terlihat besar padahal sebenarnya adalah upah Anda sendiri.
  • Uang pribadi dan usaha bercampur. Belanja dapur dari laci kasir atau barang toko yang dipakai di rumah membuat laba "menguap" tanpa tercatat. Catat setiap pengambilan sebagai prive.
  • Menganggap semua kulakan sebagai biaya. Belanja stok yang belum terjual bukan biaya bulan itu. Kesalahan ini membuat bulan kulakan besar tampak rugi dan bulan berikutnya tampak sangat untung.
  • Lupa biaya kecil dan tahunan. Perbaikan, iuran kebersihan, atau perpanjangan izin sebaiknya dibagi per bulan.
  • Mengabaikan barang rusak dan hilang. Selisih stok adalah kerugian nyata yang mengurangi laba.
  • Piutang dihitung sebagai uang masuk. Penjualan secara bon memang menambah omzet, tetapi uangnya belum diterima. Pantau piutang terpisah agar arus kas tidak kaget.

Cara Meningkatkan Laba Bersih Tanpa Harus Menaikkan Harga Besar-besaran

Begitu angka laba sudah jelas, Anda bisa mencari ruang perbaikan dari tiga arah:

  1. Perbaiki margin per barang. Cek barang terlaris. Kenaikan harga beberapa ratus rupiah pada barang yang tidak terlalu sensitif harga bisa menambah laba kotor cukup berarti. Bandingkan juga harga beli antar-supplier. Contoh ilustrasi: jika air mineral botol terjual 600 botol per bulan dan harganya dinaikkan Rp 200, laba kotor bertambah Rp 120.000 per bulan tanpa menambah biaya apa pun.
  2. Tekan kebocoran. Barang kedaluwarsa, rusak, dan selisih kas adalah biaya yang bisa dikurangi dengan pencatatan rapi dan stok opname rutin.
  3. Kendalikan biaya operasional. Gabungkan jadwal kulakan untuk menghemat transport, matikan pendingin yang tidak terpakai, dan evaluasi biaya yang tidak memberi hasil.

Satu hal lagi: hitung laba secara rutin setiap bulan dengan cara yang sama. Membandingkan laba bulan ini dengan bulan lalu jauh lebih bermanfaat daripada melihat satu angka saja.

Mempermudah Pencatatan dengan Aplikasi Kasir

Bagian tersulit menghitung laba biasanya bukan rumusnya, melainkan mengumpulkan datanya: total penjualan, retur, modal barang yang terjual, dan selisih stok. Jika semua transaksi tercatat lewat aplikasi kasir, angka-angka ini tidak perlu direkap manual dari nota.

Di RekaPOS, setiap transaksi penjualan dan retur tercatat otomatis, lengkap dengan laporan penjualan dan laporan selisih. Paket Standard menyediakan semua laporan, kartu stok, serta catatan hutang dan piutang, sehingga Anda lebih mudah menyusun hitungan laba bulanan. Biaya operasional seperti gaji dan sewa tetap perlu Anda catat sendiri di buku atau spreadsheet sederhana.

Penutup: Ukur Laba Bersih Setiap Bulan

Laba kotor memberi tahu apakah harga jual Anda sehat, sedangkan laba bersih memberi tahu apakah usaha Anda benar-benar menguntungkan. Hitung keduanya setiap bulan, masukkan gaji pemilik dan biaya kecil, pisahkan uang pribadi, dan bandingkan dari waktu ke waktu.

Jika ingin data penjualan dan modal barang tersaji otomatis, coba RekaPOS gratis 14 hari dan rasakan sendiri betapa ringannya menutup buku tiap bulan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa rumus laba bersih?

Laba bersih sama dengan laba kotor dikurangi biaya operasional, beban lain seperti bunga pinjaman, dan pajak. Laba kotor sendiri adalah penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan.

Apakah gaji pemilik toko dihitung sebagai biaya?

Sebaiknya ya, jika pemilik ikut bekerja setiap hari. Dengan memasukkan gaji wajar untuk pemilik, Anda tahu apakah usaha benar-benar untung atau hanya membayar tenaga Anda.

Berapa margin laba yang wajar untuk toko kelontong?

Margin toko kelontong umumnya tipis karena banyak barang kebutuhan pokok. Lebih penting membandingkan margin Anda dari bulan ke bulan dan memperbaiki barang yang marginnya terlalu kecil.

Apakah belanja stok termasuk biaya bulan itu?

Tidak. Yang menjadi biaya hanya modal dari barang yang sudah terjual (HPP). Barang yang belum terjual masih dihitung sebagai persediaan.

Artikel lainnya