Harga Pokok Penjualan (HPP): Pengertian, Rumus, dan Contoh Toko
HPP menentukan apakah harga jual Anda benar-benar menguntungkan. Pelajari rumus harga pokok penjualan untuk toko, contoh hitungannya, dan cara memakainya untuk menetapkan harga.

Harga pokok penjualan atau HPP adalah total modal dari barang yang benar-benar terjual dalam satu periode. Untuk toko, rumusnya adalah persediaan awal ditambah pembelian bersih, lalu dikurangi persediaan akhir. Angka inilah yang menentukan apakah harga jual Anda menutup modal dan memberi untung.
Apa Itu Harga Pokok Penjualan dan Mengapa Penting
Banyak pemilik toko menyamakan HPP dengan harga beli di nota supplier. Padahal ada perbedaannya. Harga beli adalah harga satu barang saat dibeli, sedangkan HPP adalah total modal dari semua barang yang keluar karena terjual, termasuk biaya yang melekat untuk mendatangkan barang tersebut, seperti ongkos angkut.
HPP penting karena tiga alasan:
- Dasar menghitung laba kotor. Penjualan dikurangi HPP menghasilkan laba kotor. Jika HPP salah, laba Anda pun salah.
- Dasar menentukan harga jual. Harga jual yang ditetapkan tanpa tahu modal sebenarnya berisiko terlalu murah.
- Alat deteksi masalah. Jika HPP melonjak padahal penjualan biasa saja, bisa jadi ada barang hilang, rusak, atau harga supplier naik tanpa disadari.
HPP di toko berbeda dengan HPP di kafe
Toko membeli barang jadi lalu menjualnya kembali, sehingga HPP-nya berasal dari harga beli barang. Usaha yang mengolah bahan, seperti kafe atau kedai kopi, menghitung HPP per menu dari takaran bahan. Contoh ilustrasi segelas es kopi susu: kopi 18 gram Rp 4.000, susu 120 ml Rp 2.400, gula aren Rp 800, serta es, gelas, dan sedotan Rp 1.300, sehingga HPP-nya Rp 8.500 per gelas. Artikel ini berfokus pada toko, tetapi prinsipnya sama: kenali modal sebenarnya sebelum menentukan harga.
Rumus Harga Pokok Penjualan untuk Toko
Untuk usaha dagang seperti toko, warung, dan minimarket, rumus HPP periodik adalah:
HPP = Persediaan awal + Pembelian bersih - Persediaan akhir
Penjelasan tiap komponennya:
- Persediaan awal: nilai stok (dihitung dengan harga beli) di awal periode. Biasanya sama dengan persediaan akhir periode sebelumnya.
- Pembelian bersih: total pembelian barang dagang + ongkos angkut pembelian - retur pembelian ke supplier - potongan harga dari supplier.
- Persediaan akhir: nilai stok yang masih ada di akhir periode. Angka ini paling akurat bila didapat dari stok opname.
Logikanya sederhana: semua barang yang tersedia untuk dijual (stok awal ditambah barang yang dibeli), dikurangi yang masih tersisa, berarti barang itulah yang sudah keluar.
Contoh Hitungan HPP Bulanan untuk Toko
Berikut contoh ilustrasi sebuah toko kelontong untuk bulan Agustus:
| Komponen | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Persediaan awal (1 Agustus) | 20.000.000 |
| Pembelian barang selama Agustus | 32.000.000 |
| Ongkos angkut pembelian | 400.000 |
| Retur pembelian ke supplier | (600.000) |
| Potongan harga dari supplier | (300.000) |
| Pembelian bersih | 31.500.000 |
| Barang tersedia untuk dijual | 51.500.000 |
| Persediaan akhir (hasil stok opname 31 Agustus) | (22.000.000) |
| Harga pokok penjualan | 29.500.000 |
Jika penjualan bersih bulan itu Rp 37.000.000, maka laba kotornya Rp 7.500.000. Perhatikan bahwa toko membeli barang senilai Rp 32 juta, tetapi HPP-nya hanya Rp 29,5 juta, karena sebagian pembelian masih menjadi stok di rak.
Satu catatan penting: barang yang hilang atau rusak juga ikut "masuk" ke HPP dalam metode ini, karena persediaan akhir hasil hitung fisik sudah lebih sedikit. Itulah sebabnya HPP yang tiba-tiba membengkak patut diwaspadai.
Menghitung HPP per Barang: Rata-rata atau Masuk Pertama Keluar Pertama
Selain HPP total per bulan, Anda juga perlu tahu modal per barang, terutama saat harga kulakan berubah-ubah. Ada dua cara yang umum dipakai UMKM:
Metode rata-rata
Modal per barang dihitung dari rata-rata semua stok yang ada. Contoh: Anda punya 20 botol minyak goreng dengan modal Rp 33.000, lalu membeli 30 botol lagi seharga Rp 35.000.
- Total nilai: (20 x Rp 33.000) + (30 x Rp 35.000) = Rp 660.000 + Rp 1.050.000 = Rp 1.710.000
- Total jumlah: 50 botol
- Modal rata-rata: Rp 1.710.000 / 50 = Rp 34.200 per botol
Metode masuk pertama keluar pertama (FIFO)
Barang yang dibeli lebih dulu dianggap terjual lebih dulu. Dengan contoh yang sama, 20 botol pertama yang terjual memakai modal Rp 33.000, dan penjualan berikutnya memakai modal Rp 35.000. Metode ini cocok dengan cara menata barang lama di depan.
Bedanya terasa saat harga naik. Misalkan 25 botol terjual di bulan itu. Dengan metode rata-rata, modalnya 25 x Rp 34.200 = Rp 855.000. Dengan FIFO, modalnya (20 x Rp 33.000) + (5 x Rp 35.000) = Rp 835.000. Selisihnya kecil per barang, tetapi bisa berarti jika berlaku untuk ratusan jenis barang.
Untuk toko kecil, metode rata-rata biasanya lebih praktis. Yang penting, pilih satu metode dan gunakan secara konsisten.
Menentukan Harga Jual dari HPP: Markup atau Margin
Setelah tahu modal per barang, harga jual bisa dihitung dengan dua pendekatan yang sering tertukar:
- Markup adalah persentase keuntungan dari modal. Rumus: Harga jual = Modal x (1 + markup).
- Margin adalah persentase keuntungan dari harga jual. Rumus: Harga jual = Modal / (1 - margin).
Contoh dengan modal Rp 10.000:
| Target | Perhitungan | Harga jual | Untung |
|---|---|---|---|
| Markup 20% | Rp 10.000 x 1,20 | Rp 12.000 | Rp 2.000 (16,7% dari harga jual) |
| Margin 20% | Rp 10.000 / 0,80 | Rp 12.500 | Rp 2.500 (20% dari harga jual) |
Kesalahan umum adalah memasang markup 20% tetapi mengira margin sudah 20%. Selisih kecil ini, jika terjadi pada ratusan barang, cukup terasa pada laba bulanan. Setelah dapat angka hitungan, bulatkan ke harga yang wajar di pasaran, misalnya Rp 12.500 tetap atau dibulatkan ke Rp 13.000 untuk barang yang tidak sensitif harga.
Tips agar Perhitungan HPP Selalu Akurat
- Catat setiap pembelian lengkap dengan ongkos angkut. Simpan nota supplier dan masukkan ke catatan di hari yang sama.
- Perbarui modal barang setiap ada kenaikan harga. Modal lama yang tidak diperbarui membuat laba terlihat lebih besar dari kenyataan.
- Lakukan stok opname di akhir periode. Persediaan akhir yang akurat adalah kunci HPP yang benar.
- Catat retur dan barang rusak. Retur ke supplier mengurangi pembelian, sedangkan barang rusak sebaiknya dicatat terpisah agar terlihat besarnya kerugian.
- Pisahkan barang untuk dipakai sendiri. Barang toko yang diambil untuk kebutuhan rumah harus dicatat agar tidak dianggap terjual.
Pencatatan ini lebih ringan jika stok dikelola lewat aplikasi. Di RekaPOS paket Standard, Anda bisa mengelola barang dan stok, mencatat supplier, melakukan stok opname, serta melihat kartu stok untuk menelusuri riwayat keluar-masuk tiap barang. Dengan data stok yang rapi, persediaan awal dan akhir tidak perlu ditebak. Jika Anda rutin membeli dari supplier yang sama, add-on Purchase Order juga membantu mencatat pesanan ke supplier.
Penutup: HPP yang Benar, Harga Jual yang Tepat
Harga pokok penjualan bukan sekadar istilah akuntansi. HPP yang akurat membuat Anda tahu modal sebenarnya, menetapkan harga jual dengan yakin, dan cepat menyadari bila ada kebocoran stok. Mulailah dengan mencatat pembelian secara lengkap dan melakukan stok opname setiap akhir bulan.
Ingin stok dan pembelian tercatat lebih rapi? Coba RekaPOS gratis 14 hari dengan semua fitur, lalu lihat harga paket yang sesuai kebutuhan toko Anda.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa rumus harga pokok penjualan untuk toko?
HPP sama dengan persediaan awal ditambah pembelian bersih, lalu dikurangi persediaan akhir. Pembelian bersih adalah pembelian ditambah ongkos angkut, dikurangi retur dan potongan dari supplier.
Apakah HPP sama dengan harga beli?
Tidak persis. Harga beli adalah harga per barang di nota, sedangkan HPP adalah total modal dari barang yang terjual dalam satu periode, termasuk biaya yang melekat seperti ongkos angkut.
Apa bedanya markup dan margin?
Markup dihitung dari modal, sedangkan margin dihitung dari harga jual. Markup 20% dari modal Rp 10.000 menghasilkan harga Rp 12.000, sedangkan margin 20% menghasilkan Rp 12.500.
Seberapa sering HPP perlu dihitung?
Idealnya setiap bulan, bersamaan dengan stok opname akhir bulan. Modal per barang perlu diperbarui setiap kali harga kulakan berubah.